Langsung ke konten utama

Pasukan Bijak Sampah Blusukan! Bank Sampah Selaras Hijau Mandiri



Tgl 14 mei 2016, pukul 10.15 WIB

Waste4change dan pasukan bijak sampah melaksanakan blusukan #3 yaitu observasi dan wawancara mendalam seputar  Bank sampah yang ada di daerah DKI Jakarta. Blusukan kali ini terbagi menjadi 4 kelompok, salah satu dari kelompok tersebut mengunjungi Bank Sampah Hijau selaras mandiri. Pewawancara dari waste4change ada kak Martin dan dari Komunitas Pasukan Bijak Sampah ada kak Dina, Galih, Safira yang akan mewawancarai ibu Esti Sumarwati selaku manajemen serta para nasabah dari Bank Sampah Hijau Selaras Mandiri.
            Bank sampah hijau selaras mandiri Didirikan pada 1 juni tahun 2013 berdirilah bangunan Bank Sampah Hijau Selaras Mandiri disingkat HSM dan diresmikan oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Bpk. DR.H. DAHLAN ISKAN tanggal 10 November 2013, alamat lengkap di jl. Kompleks angkasa pura,RT/RW 14/06  kelurahan kebon kosong, kecamatan kemayoran, Jakarta Pusat. Bank Sampah Selaras Hijau Mandiri beroperasi setiap hari senin s/d jumat pada pukul 10.00-14.00 WIB, tidak beroperasi pada hari sabtu,minggu dan hari libur. dalam rangka mengajak dan menumbuhkembangkan kepedulian sosial untuk lingkungan terutama dalam pengelolaan persampahan dan penghijauan, serta pengurangan sampah di TPS/TPA dan pemberdayaan ekonomi masyarakat dengan memanfaatkan sampah dengan program 3R (Reduce, Reuse dan Resycle) serta perubahan perilaku masyarakat menuju lingkungan hijau,selaras,mandiri.
Bank sampah ini Menerima sampah nonorganic dan organic. Sampah organic dijadikan kompos dan non organic dijual di lapak. Proses pengolahan sampah  organik dengan metode komposter yang sederhana menghasilkan liquid (kompos cair) dan kompos, sedangkan sampah non-organik dijual di lapak atau di daur ulang menjadi kreatifitas. Dari hasil liquid(pupuk cair) dijual dengan harga 5 liter Rp 30.000 atau seliter Rp.5.000 dan kompos 3kg Rp.10.000 atau perkilo Rp 3.000.  Dari hasil penjualan sampah organik dan non organic tersebut dijadikan untuk membayar tabungan nasabah sampah masyarakat. 
            Awal mula didirikannya Bank Sampah Hijau Selaras Mandiri, Ibu Esti pun menjelaskan perasaannya yang resah terhadap sampah dan inisiatif untuk membuat Bank sampah” Jadi itu, karena gemas dengan sampah. disaat hujan dan tumpukan sampah membuat sampah menjadi bau dan banjir ngalir airnya ke seluruh kompleks wah jorok sekali kan. Jadi saya dan suami  ingin sekali merubah lingkungan menjadi bersih. Disaat menonton tv di Jogja ada bank sampah, begitu melihat ada bank sampah bisa hilangkan 60% sampah rumah tangga, setiap melihat ada artikel tentang bank sampah dan selalu diskusi dikelompok arisan mengenai bank sampah,jadi saya dan suami inisiatif ingin membuat bank sampah. nah, disaat ada lomba lingkungan, penyelenggaraannya dulu Koran indopos dan bank mandiri, kita disuruh ikut Cuma syaratnya ikut lomba harus ada manajemen sampah, kebun toga dan penghijauan, untuk kebun toga dan penghijauan kita sudah masuk tetapi manajemen sampah belum, ini sebelumnya tempat sampah besar dan  setelah jurinya melihat tempat ini sudah dibersihkan untuk bank sampah jurinya pun senang dan sudah membuat kompos. Akhirnya disaat penilaian belum memenang Rp,40juta, karena jurinya senang kita dijadikan nominasi favorit RT terkompak,Rp.2,5jt. Kearifan local taman bunga rosella Rp.5jt, awal mula ini modal sendiri. Suami dan istri bekerjasama dengan RT, ahirnya dari semua hasil dana lomba kita kumpulkan lalu rapat bersama RT, kita diskusi nih punya dana Rp,7.5juta buat makan-makan atau untuk apa, kan saya sudah sounding tentang bank sampah oh akhirnya warga sepakat ingin membuat bank sampah. Jadi awal mula berdiri bermodalkan bank sampah itu dari hasil dana perlombaan, tetapi dengan modal awal dari hadiah itu masih belum cukup untuk membangun bank sampah sehingga pada akhirnya menghimpun dana dari iuran sumbangan masyarakat,”                                                                                                                                                                                                                                                                 
            Bank sampah Hijau selaras mandiri pada awal mula tidak ada kerjasama dengan Pemerintah, hingga Ibu Esti pun menceritakan awal mula bekerjasama dengan pemerintah “Awalnya bank sampah belum jadi dan berdiri kita ya begiini aja , sendiri berjalan. sampai suatu saat ada  orang namanya mas  Subhan dari yayasan my darling,jalan-jalan ke pak lurah nanyain “pak,disekitar sini ada bank sampah?”pak lurah pun menunjuk kearah sini. Jadinya pak subhan datang,beliau melihat pembukuan bank sampah yang pada saat itu kami masih memiliki 35 nasabah, saat itu pembukuan hanya menggunakan kertas kosong diprint seperti tabanas lalu di tulis menggunakan buku bekas. Lalu mas subhan bertanya”bu sudah didaftar dikelurahan belum bu tentang bank sampah?”,nah disitu saya bingung loh memang gimana caranya untuk mendaftar? Akhirnya bapaknya dua kali membawa berbagai form-form pendaftaran, ternyata beliau adalah komunitas  bank sampah di Jakarta pusat. Kita kan ga ngerti, akhirnya dia mengajarkan untuk mendaftarkan bank sampah ini dikelurahan, akhirnya kami mendaftar di kelurahan dan keluarlah dari SK bank sampah yang terdaftar dikelurahan,susunan pengurus, tahun 2013 bulan November. Ini surat resminya 24 desember 2013. Sehingga, mulai dari situlah banyak yang melihat prihatin, dan undangan mewakili kelurahan kebon kosong.”
            Ibu Esti lalu mengajarkan kita untuk membuat kompos dari  sampah organic. Sampah organic yang sudah dicacah dan dipilah oleh warga lalu di timbang dan masukan ke dalam tong komposter. setelah disimpan pembusukan di tong komposter selama 2 minggu mengeluarkan cairan,yang diambil untuk dijadikan pupuk cair dan dimasukkan ke dalam jerigen berisi 5liter. Setelah 2 bulan sampah organik tersebut hancur dituangkan di bak penampungan dicampur sekam/serbuk gergaji dan kotoran hewan , ditutup terpal, Kompos basah dimasukkan dalam karung,diikat setelah kering ( 2minggu) , setelah menunggu proses pengomposan berlanjut, karena ada gumpalan-gumpalannya kompos yang tidak mudah hancur  lalu diayak dimenggunakan kawat jaring untuk penyaringan.kemudian terakhir yaitu ayak tersebut dikemas,dilabel dan siap untuk dijual.”
Hasil dari penjualan sampah organic tersebut, ibu esti selaku manajer yang mengatur seluruh keuangan dari bank sampah tersebut,  menjelaskan mengenai hasil penjualan pupuk kompos dan liquid yang dijadikan sebagai alat tukar membayar nasabah bank sampah , “harga 10.000/3kg, liquid 5.000 seliter Dengan isi Rp.30.000/5kg. penuhnya dalam satu tong sampah itu 25liter, dan jadi kompos 25kg/se-tong.jadi dengan sampah jenuh 100kg/skala 500.setelah 2 bulan hasilnya kompos 25kg kalau 3.000/kg jadi 75.000.liquid 25liter dikali 5.000 jadi 125.000 tambah 75.000 jadi 200.000.dengan modal 50.000 bisa dijual bisa dengan hasil Rp.200.000,jadi keuntungannya 150.000. jadi dari hasil sampah itu bisa membayar nasabah dari hasil penjualan compost dan menjual sampah non organic di tukang lapak”.
Harga yang diberikan dalam beberapa sampah organic dan non organic yang dijual di Bank sampah selaras hijau mandiri, Sampah organic: Rp500/kg saya yang memberikan nilai organic seharga itu untuk membayar warga karena telah memilah dan memotong-motong sampah organic. Sedangkan untuk Sampah no organic warga harus mengumpulkannya dengan cara dipilah dan dibersihkan serta rapih,agar semakin bersih dan rapih sampah non organic akan semakin mahal harganya, apabila kotor maka berkurang harganya, tergantung warga ada yang menerima dengan praktis ada yang tidak, selisih harga tambahan Rp.500 untuk memilah,mencuci,dan merapihkan, seperti :1.) Duplex:Rp 300/kg,2.) Koran/kardus/kertas: Rp.1.000/Kg, 3.)Sampah plastic : 1.) gelas:Rp.2.500/kg,     2.) botol: Rp 1.500/Kg.)) 4.)Aluminium :Rp.10.000, 5.) Tembaga : Rp. 20.000,6.) Elektronik :1)Komputer : Rp.150.000, 2) mesin AC: Rp.50.000,  3) Kipas angin:Rp.15.000, Alat elektroni seperti tv,kipas angin,ac,kulkas,aki kami terima, saya hargai itu dengan cara saya terima dulu setelah laku saya jual dan mengambil 15%, Dari hasil tersebut ditulis dibuku tabungan dan buku bulanan bu esti. Ada yang buku tabungannya diminta untuk ditulis dan dibawa pulang ada yang tidak. Yang tidak dibawa pulang karena agar ibu esti tida mengerjakan dua kali menulis di buku tabunngan dan buku pedoman. Tergantung dari setiap nasabah mau mengambil atau tidak. Semua dana yang tersimpan ini punya nasabah, kita hanya mengambil 15% yang disimpan di kas, di kas pun juga masih banyak karena banyak nasabah tidak mengambil uangnya. Jadi uangnya masih disini. Apabila rugi, itukan hanya perhitungan diatas kertas, yang penting casual atau ada uang bisa muter. Makanya saya juga ikut menabung disini untuk cadangan. Walaupun warga sudah mengikuti persampahan rumah tangga ke bank sampah, tetapi mereka masih membayar petugas persampahan. Karena masih ada sampah yang tidak bisa dibawa ke bank sampah sehingga dibuang.”
Jenis sampah yang diterima di Bank sampah selaras hijau mandiri“Sampah yang diterima dari organic semua macam yang mudah membusuk kecuali tulang,sedangan non organic segala macam. Seperti kertas,plastic,buku tulis yang covernya jadi duplek, Koran, ember,kemasan plastic, bekas sabun,odol,baygon,bungkus kopi, diterima asal bersih tetapi tidak dihargai karena untuk dibuat kerajinan. Nah keuntungan dari kemasan bungkus kopi yang tidak dihargai akan dijadikan keuntungan untuk pengrajin.kita membantu memberi  bahan. Jadi, di warga itu maksudnya supaya daripada dijadikan sampah, kalau dari sumbernya kan masih bersih. Lebih baik dipilah saja nanti disetor kesini ditampung dan diserahkan ke pengrajin untuk membuat kerajinan tas cantik berbahan plastic kemasan.”jelasnya bu Esti.

            Bu esti menjelaskan mengenai cara mensosialisasikan mengenai persampahan ke masyarakat, “kita kan sebagai produser sampah,menghasilkan sampah minimal satu kilo. Ibu-ibu dari rumah yang mau memilah,yang susah yang memilah sampah itu. Tetapi apabila sudah terbiasa itu enak sekali. Jadi kami menganjurkan untuk dirumah sudah sediakan 2 kantong satu untuk organik dan satunya lagi anorganic, Ada juga dengan cara lomba memilah sampah untuk anak-anak. Dikasih dua kantong masing-masing ayo membuang sampah organic dan non organic. Hadiah disaat lomba itu disponsori oleh salah satu warga yaitu Mantan Menteri perhubungan sebuah sepeda dan tiket bermalam dihotel.Lalu, kita pasang spanduk besar-besar penjelasan beserta gambarnya sampah organic dan non organic segala macam bisa dijual loh.  Bisa kardus, bungkus roko,bungkus sabun,bungkus susu,surat undangan,Koran, edaran-edaran, walaupun murah seharga Rp.300/kg, tapi daripada berserakan dirumah mending dipilah lalu dibawa ke bank sampah menghasilkan uang,  jadi mengajarkan berulang-ulang supaya memilah sampah dari rumah. Walau ada yang malas juga misalkan”ih ngapain gue nyari rejeki dari sampah,” kita bukan mencari rejeki dari sampah, tetapi kita menyelamatkan lingkungan dengan mengelola sampah, bonusnya dapat ada nilai ekonominya. Kalau tidak mau memakai uang itu ya sumbangkan. Banyak kok nasabah yang tabungannya tidak diambil-ambil.”
Setelah mensosialisasikan ke warga, respon warga pun masih belum banyak, “Awal mula warga masih belum ada yang mau, nasabah pertama itu saya. Awal mula 12 orang, masih sepuh-sepuh yang mengerti lingkugan, lama-lama warga menjadi tertarik. Tokoh-tokoh masyarakat disiini menjadi nasabah dan meluas ke berbagai wilayah. Kan bank sampah menjadi tempat umum, jadi yang dari bekasi sunter,pamulang dll sudah menjadi nasabah disini. Jadi apabila anak-anak dari daerah bekasi atau sunter datang kemari mereka membawa setoran sampah”
            Berdirinya Bank sampah ini Ibu esti menceritakan suaminya selaku pendiri Bank sampah selaras hijau mandiri serta pengurus yang mengelolanya” Pak selamet,suami saya  yang mendirikan bank sampah pada Tahun 2015 meninggal, pada saat itu.saya sebagai administrasi,.yang memilih untuk petugas bank sampah itu pak RT. Kita kan ada ibu PKK, RT, ibu-ibu arisan setiap bulan, yang aktif ditunjuk aja namanya sebagai anggota bank sampah kami Sehingga aktif. Seharusnya sudah diganti petugasnya. Nah dulu beliau paling banyak mengeluarkan dana untuk kegiatan ini secara sukarela. Pengurusnya tidak ada keuntungan, tetapi kita baru bisa menggaji pak siun, berjualan dan memilah sampah kardus,ditimbang, diangkat, pak siun dapat gaji permulaan Rp.50.000/bulan, tetapi sejak tahun 2015 naik menjadi Rp.100.000/bulan. Kami hanya bisa menggaji pak siun aja, kita-kita ga dapet gaji hanya sukarela”.
            ` bu esti menceritakan mengenai nasabah yang ia sukai Ada nasabah sekali setor 6kg sampah organic dan bagus-bagus, karena sampah organiknya itu berasal dari sampah sisa jus,hancur dan baunya harum. Nasabah itu bilang ibu saya tida bisa dating setiap hari karena rumah saya jauh. Yaudah ditandai mbak., toh sampah jus itu bertahan lama tiga hari ya kami tunggu hingga tiga hari sekali datang kemari. Apabila sudah membusuk juga tidak apa-apa, jadi kita tidak pegang-pegang lagi langsung timbang dan taruh ditong kompos. Itu masih saya toleransi. Jadi dia datang seminggu sekali atau dua, minggu sekali. Kemudian saya mau menjelaskan nasabah kami memiliki 3 golongan, mengengah atas dan bawah, kalau golongan atas tidak membutuhkan duitnya,tetapi  berpartisipasi menjaga lingkungannya dan tabungannya tidak diambil karena untuk bantuan RT atau ambil pupuk sehingga mengurangi buku tabungan, nasabah sekarang yang aktif 91 orang, untuk orang atas hanya beberapa yang ada di sini seperti para pejabat. Untuk mahasiswa yang masih sekolah menabung untuk biaya tambahan, pedagang pecel,pedagang kue, mereka mengumpulkan  untuk menambah modal.”
Masyarakat ada yang membawa sampahnya ke lapak ada yang ke bank sampah. Bu esti merespon mengenai kebiasaan masyarakat yang sudah peduli terhadap sampahnya.” Ada masyarakat yang masih menjual ke pengepul karna harga lebih mahal disbanding bank sampah. Sosialisasi di tempat arisan, pengajia pengumpulan warga rt/rw rencana bank sampah hingga akhirnya menyadari da semangatnya tertanam untuk mengelola sampah spaya tida kotor,apabila dipilah sumbernya dari rumah da bank sampah menampung itu, karena beberapa tahun yang lalu gerakan memilah sampah sudah ada,warga sudah memilah di tempat sampah terpilah,tetapi setelah ada petugas sampah mengambil sampah dan diangkut di truk sampah tetap dicampur lagi, tidak ada manfaatnya. Tapi,setelah ada bank sampah warga menyetor kesini, jadinya sampah yang dibuang di petugas sampah it benar-benar sampah yang sdah tida bisa dipakai. Sampah yang masuk bank sampah adalah sampah yang asih bisa dimafaatkan dan dijual seperti sampah organic dan non organic, jadi mengapa masyaraat lebih memilih bank sampah karena dari unsure kerjasama bersama dan semangatnya untuk mengurangi sampah.“

            Bank sampah selaras hijau mandiri sangat aktif di paguyuban,Bu Esti pun menceritakan dari pengalamannya” Paguyuban dari dinas lingkungan hidup dari walikota. Pak yayat pengurusnya tetapi setelah pindah bank sampah dialihkan dinas kebersihan,orang-orang dinas kebersihan itu belum mengerti tentang semangat bank sampah. Jadi, mereka itu hanya inginnya lapak-lapak jadi bank sampah. Dan paguyuban mulai vakum tidak ada pertemuan, padahal kumpul bersama dengan bank sampah sejakarta kan senang juga karena bisa diskusi dan sharing, jadinya kita mengenal dunia seputar bank sampah.”
Setiap Bank sampah tidaklah selalu jalan dengan mulus, Bu Esti pun menceritakan pengalamannya mengenai bank sampah yang sudah tutup karena gagal dalam mengelola bank sampah dengan baik “Ada cerita dari teman mengenai bank sampah yang tidak bisa membayar nasabahnya, ada teman bu sri rahayu daerah pesanggrahan, Jakarta timur. Dia itu dapat uang Rp.40jt dari Unilever dibantu disuruh membuat bank sampah. Dari awal sudah diajari hingga mengumpulkan warga sosialisasi membentuk bank sampah, sudah enak itu daripada saya jungkir balik  mengurusi bank sampah sendiri. Lalu pada saat sudah dibangun wilayah sana seperti perbukitan ada yang diatas dan dibawah, mereka bilang orang-orang yang dibawah tidak mau keatas, yang di atas tidak mau kebawah. Jadi terpaksa dibuat dua bank sampah diatas dan dibawah. Jadi uangnya dibagi dua bank sampah Rp.20jt untuk operasional bank sampah. Bangunannya paling sederhana dari bambu, katanya mereka”pengurusnya yang diatas itu baik-baik jadi ada dananya Rp.20jt,nah disini malah nasabahnya yang tidak baik karena pada pinjem dana semua.setelah dananya dipinjem tidak ada yang balik lagi. Jadi uangnya habis. Nah  yang dibawah semua nasabahnya pada baik-baik, tetapi pengurusnya yang tidak baik karena dananya pada dipake. Jadi dana Rp40jt tidak berhasil,ibu itu memberitahukan ke kami jangan ada modal dulu karena saya pengalaman yang tidak berhasil untuk membangun bank sampah. Jadi,lebih baik yaitu kesadaran masyarakat dibandingkan dana awal itu,tetapi apabila dikasi alat fasilitas lebih baik daripada dana. Karena uang menghasilkan perpecahan pengalaman dulu bapak mencari barang bekas timbangan seharga Rp.70.000 untuk menimbang,pertama kan saya kira-kira jadi satu kilo plastic Rp.800, jadi awal mula itu untung atau rugi yang penting jangan nasabah yang rugi. Kita rugi tidak apa-apa. Nah setelah sekian lama dan sering dipakai alat timbangan itu rusak. Kamipun akhirnya mendapatkan sponsor dari unilever timbangan baru,lalu diberikan peralatan.
Ada beberapa yang bank sampahnya sdah tidak jalan atau ditutup.  Seperti bank sampah punya pak nanang di cilincing. Padahal dulu terkenal banyak disorot media massa. Aku nonton di berita dan sampai ingin sekali ke sana melihat bank sampah untuk belajar tetapi ditolak untuk dikunjungi karena bank sampah pak nanang banyak tamu dari jepang korea dll. Bolak-balik ke bank sampah tersebut untuk ingin belajar sehingga bank sampah kami tidak dimulai-mulai karena awal mula  ingin belajar ke bank sampah pak nanang tetapi tidak kesampean terus. Akhirnya ya sudahlah kita belajar sendiri aja dari pada nyari-nyari. Nah dengar-dengar bank sampah itu tutup sekarang. Tapi akhirnya setelah  warga melihat bank sampah kami dan tertarik membuat bank sampah, warga pun menanyakan ke kami, bu terima tidak kalau kami belajar dari bank sampah ibu?ya kami terima”
Ada pengalaman penipuan dari Bu Esti terkait lapak yang harga mahal sehingga menjadi pembelajaran bagi setiap bank sampah yang ada” Pengalaman mengenai lapak, pembelajaran bagi saya makanya jadi orang jangan jadi serakah. Jadi kita punya langganan lapak pak aris namanya yang setiap hari datang, lalu tiba ada orang baru datang “ibu saya berani membeli mahal”nawarin sampah non organic,jadi orang itu berniat tidak baik. Dan saya bingung lah ini barang mahal semua.nah akhirnya saya tertarik dong, namanya pak Saimun. Dia baru sekali datang ambil barang pertama, beres.ini saya percaya oh dia ngasih separuh harga.”segini dulu besok saya bayar lagi sisanya. Besoknya datang, ambil yang kedua kalinya barang yang banyak harga juga mahal,saya ingat total Rp,1.517.300,-,dan diapun hanya membayar Rp.500.000,sisanya besok bu, nah setelah itu hilang tidak datang lagi. Sisanya Rp.517.300 belum dibayar. Jadi, setelah 2 kali datang tidak pernah beredar lagi pak Saimun itu. Wah, ini orang kok penipu, nah jadi pembelajaran bagi saya dan saya berbagi pengalaman saya ke komunitas bank sampah, “Harus Case and Care,ngga boleh setengah-setengah” jadi saya anggap kerugian tidak tertagih.
Ada Bank sampah selain Bank sampah selaras hijau mandiri di wilayah kebon kosong yaitu bank sampah binaan dari Bu Esti, tetapi tidak jalan, berikut penjelasannya “Sebenarnya kita ada bank sampah binaan di RT 12 namanya greenfortune tapi tidak jalan karena ngga kompak antara pengurus bank sampah dengan RT. Jadi, anak-anak muda begitu pinter disaat sosialisasi ke masyarakat pakai bahasa ilmiah, pengurus dan RT tidak kompak,kecenderungan pengen dia(pengurus) yang menonjol.ego nya masih muncul ingin tampil sendiri,seharusnya pengurus dibawah  Pak RT yang mengawas, dan kerjasama untuk memilah sampah,tetapi malah pengurus dan pak RT bersaing sehingga tidak kompak.  Jadi harus menghormati penguasa wilayah karena pak RT yang mengatur dan mewakili untuk bekerjasama kepada warga dan kelurahan”
Dari pengalaman yang diberikan dalam membangun Bank Sampah Selaras Hijau Mandiri, bu Esti pun memberikan saran dan masukan untuk membangun bank sampah agar berjalan dengan baik dan sukses ” Hal yang paling sulit untuk membuat bank sampah itu ya ada kemauan atau nggak,karena ngga ada yang sulit kok. Ada yang mau ngga untuk mengurusi bank sampah. Jadi kan tidak semua mau. Ada warga yang banyak kemauan tetapi disaat sudah menjalankan kadang gagal Tipsnya untuk tidak berhenti mengurus bank sampah jangan bosen-bosen untuk mengurus bank sampah , merubah kebiasaan itu sangat sulit. Merubah budaya warga misalkan anak-anak saja ada tempat sampah di tempat mainan belakang rumah, saya bilang jangan buang sampah sembarangan ya taruh ditempatnya. Tetapi tetap saja tanpa  berdosa membuang sampah sembarangan padahal ada tempat sampah, kalian anak sekolahan membuang sampahnya jangan sembarangan dong, ada yang nurut ada yang ngga terutama anak remaja susah dikasi tau.”
Sekian dari hasil wawancara Ibu Esti Sumarwati,serta pak Joko dan para nasabah yang telah berbagi pengalaman yang sangat luarbiasa mengenai bank sampah. inspiratif dan salud akan niat yang sangat tulus terhadap kepedulian terhadap meminimalisir sampah. mewujudkan sampah menjadi barang yang berguna dan barang bernilai. terimakasih atas waktu dan diskusi pengalaman mengenai bank sampah selaras hijau mandiri. 


Postingan populer dari blog ini

Jika Tidak dapat Berbicara Baik, Lebih Baik Diam.

"orang yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, hendaknya :berkata yang baik. atau (jika tidak bisa) lebih baik diam"(HR.Bukhari)
Sering sekali didapatkan dari lingkungan sosial kita seperti teman sekolah/kampus, rekan kerja, saudara pun yang  membicarakan kejelekan, aib, kekurangan, gosip, masalah, dari orang lain. bahkan, disaat sedang keadaan emosi/marah sering mendapatkan kata terucap yang tidak pantas seperti mengejek, berkata yang tidak sopan, bahkan menyinggung. sehingga dari perkataan itulah yang membuat kadang orang yang mendengarkan tersebut menjadi gelisah, membenci, sakit hati bahkan kepancing emosi. lingkungan sosial yang sering dihadapi seperti inilah yang membuat kita menjadi terpancing akan urusan duniawi yang merusak hati,perasaan,pikiran kita, dan menjerumus ke arah dosa. khususnya yang sering terjadi yaitu di kaum hawa. membudayakan  bergosip ke sesama tetangga, teman segengnya, bahkan teman kantor atau keluarga sendiri. 


ada yang mengatakan kalau "…

YOUTEX ASEAN STUDENT SUMMIT SEOUL, SOUTH KOREA 2016

Pengalaman  mengikuti Asean Student Summit Youth Exchange Seoul, South Korea delegasi Muhammadiyah Prof.Dr.Hamka Jakarta sangatlah menarik dan luar biasa, Delegasi yang hadir di kegiatan ini dari se-Asean seperti manila, thailand, filiphine, malaysia, vietnam dan Indonesia. Delegasi yang mengikuti YOUTEX ini dari beberapa tingkat sekolah seperti SLTA, Mahasiswa S1 dan S2. Semangat belajar pelajar ASEAN dalam kewirausahaan, kepemimpinan, kebudayaan  yang terseleksi hingga terkumpulah dalam kegiatan YOUTEX sangat antusias dalam mengikuti kegiatan ini.  
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Indonesia Global Network, bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pemuda seluruh ASEAN dalam sumber daya manusia yang berkompeten agar mampu bersaing di MEA atau Masyarakat Ekonomi Asean. MEA yang memiliki pola mengintegrasikan ekonomi ASEAN dengan cara membentuk sistem perdagangan bebas atau free trade antara negara-negara anggota ASEAN. Harapan pemuda dari ASEAN ini mampu memiliki satu wirausaha ekonomi…

Manfaat Menjadi Volunteer

Manusia merupakan makhluk individu dan juga sebagai makhluk sosial. Artinya manusia memiliki kebutuhan  dan kemampuan untuk berinteraksi, berkomunikasi, kepada sesama manusia bahkan suatu kelompok. Saling membutuhkan satu sama lain untuk memenuhi kebutuhan.  Mengungkapkan rasa dan kemampuan untuk saling bekerjasama,adanya kepemilikan nilai manusia untuk hidup bersama dalam kesatuan kelompok seperti nilai solidaritas,kesatuan,kebersamaan,organisasi.aktualisasi manusia sebagai makhluk sosial tercermin dalam suatu kehidupan sehari-hari dalam kelompok adalah suatu kebutuhan dan bertujuan untuk meningkatkan kebahagiaan dan kesejahteraan manusia. Dari kelompok ini memilik kepedulian yang tinggi untuk menjunjung kesejahteraan masyarakat Indonesia. Kelompok inilah  seperti komunitas, NGO(Non Government Organization),LSM, Organisasi, instansi merupakan wadah para volunteer atau relawan untuk berkontribusi dalam menjalankan tujuan kepeduliannya.
         Volunteer atau relawan adalah masy…